Slogan Mahatma Gandhi

Slogan Mahatma Gandhi, Bapak Kemerdekaan India

India berhasil mengusir para penjajah dan meraih kemerdekaannya pada tanggal 15 Agustus 1947. Dan setiap tanggal tersebut dijadikan sebagai hari libur nasional. Negara India bisa merdeka pastinya karena ada pahlawan – pahlawan yang luar biasa yang ikut andil dalam menggapai kemerdekaan.


Salah satu dari pahlawan nasional yang dikenal diseluruh penjuru dunia karena perjuangannya adalah Mahatma Gandhi. Mahatma Gandhi merupakan seorang golongan elite yang menjadi pemimpin spiritual dan Politikus dari India.


Sosok Bapak Kemerdekaan India ini juga dikenal lewat kata – kata bijak (slogan hidup) nya. Berikut beberapa slogan Mahatma Gandhi yang bisa dijadikan pedoman hidup.


  1. "Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah engkau hidup selamanya."


  1. "Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi. Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam."


  1. "Aku jauh lebih baik melihat ras manusia musnah daripada kita menjadi lebih buruk dari binatang dengan menjadikan ciptaan Tuhan paling baik, yakni wanita sebagai objek nafsu kita."


  1. "Harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak."


  1. "Kasih sayang merupakan bentuk tertinggi dari sikap tanpa kekerasan."


  1. "Memberikan kesenangan kepada sebuah hati dengan sebuah tindakan masih lebih baik daripada seribu kepala yang menunduk berdoa."


  1. "Bencilah dosa, sayangilah orang yang berdosa."


  1. "Doa adalah kunci pembuka hari dan sekrup penutup malam."


  1. "Kesalahan tidak akan menjadi kebenaran walau berulang kali diumumkan, sebaliknya, kebenaran tidak akan jadi kesalahan walau tak seorang pun mengetahuinya."


  1. "Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil."


  1. "Berusaha keras adalah kemenangan besar."


  1. "Berdoa bukanlah meminta. Itu adalah keinginan jiwa, itu adalah pengakuan akan kelemahan seseorang."


  1. "Lebih baik berdoa dengan hati namun tanpa kata-kata daripada berdoa dengan kata-kata namun tanpa hati."


  1. "Berperilaku jujur memang sulit. Namun, bukan berarti tidak mungkin dilakukan."


  1. "Orang lemah tidak pernah bisa memaafkan karena memberi maaf hanya dapat dilakukan oleh orang yang kuat."


  1. "Sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya."


  1. "Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum."


  1. "Manusia seharusnya menjadi pembuat takdirnya. Itu tidaklah sepenuhnya benar. Manusia dapat membuat takdirnya, hanya sejauh dia diizinkan oleh Kekuatan Besar."


  1. "Seorang pengecut tidak mampu menunjukkan cinta; itu adalah hak prerogatif dari orang-orang yang berani."


  1. "Sebuah kata 'tidak' yang diucapkan dari keyakinan terdalam lebih baik daripada 'Ya' yang hanya diucapkan untuk menyenangkan, atau lebih buruknya, hanya untuk menghindari masalah."


  1. "Perbedaan antara apa yang kita lakukan dan apa yang mampu kita lakukan sudah cukup untuk menyelesaikan sebagian besar masalah dunia."


  1. "Kekuasaan ada dua macam. Yang satu diperoleh karena takut akan hukuman dan yang lain dengan tindakan cinta. Kekuatan yang didasarkan pada cinta adalah seribu kali lebih efektif dan permanen daripada yang diperoleh dari rasa takut akan hukuman."


  1. "Agama saya didasarkan pada kebenaran dan tanpa kekerasan. Kebenaran adalah Tuhan saya. Tanpa kekerasan adalah cara untuk mewujudkan-Nya."


  1. "Ada pengadilan yang lebih tinggi dari pengadilan dan itu adalah pengadilan nurani. Ini menggantikan semua pengadilan lainnya."


  1. "Ketika saya mengagumi keajaiban matahari terbenam atau keindahan bulan, jiwaku mengembang dalam penyembahan sang pencipta."


  1. "Seseorang yang benar-benar tidak berdosa, mengorbankan diri demi kebaikan orang lain, termasuk musuh-musuhnya, dan menjadi tawanan dunia. Itulah cinta sempurna."


  1. "Kemalasan adalah keadaan yang menyenangkan tetapi menyedihkan, kita harus melakukan sesuatu untuk bahagia."


  1. "Jangan pernah meminta maaf karena benar, atau karena mengetahui lebih cepat. Jika kamu benar dan mengetahuinya, ucapkan pikiranmu. Bahkan jika kamu minoritas, kebenaran tetaplah kebenaran."